Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Desember 2013

Berpikir Kritis dan Sok Kritis

Cara pandang masyarakat awam terhadap “orang yang kritis” adalah orang yang pintar atau mempunyai ilmu. Orang yang kritis sering kali dipandang “lebih tinggi” atau mempunya prestise lebih, mudahnya lebih disegani oleh orang lain. Oleh karena itu banyak orang yang menginginkan agar dirinya menjadi orang yang kritis. Sayangnya kebanyakan masyarakat awam dalam usahanya menjadi orang yang kritis tidak disertai dengan mengerti apa itu sebenarnya kritis. Berikut adalah definisi kritis yang saya kutip dari Kamus Bahasa Indonesia Online (data berasal dari Kamus Besar Bahasa Indonesia).

(1) bersifat tidak lekas percaya; (2) bersifat selalu berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan; (3) tajam dl penganalisisan

Dalam definisi tersebut dapat kita lihat bahwa kritis dalam arti pertama mengandung artian bahwa bersifat tidak lekas percaya, dapat diartikan dalam menerima informasi tidak serta merta menerima begitu saja informasi yang didapat, namun dipastikan dahulu keabsahan informasi yang ada dan dari mana informasi berasal. Implementasi artian sikap yang satu ini seperti tidak mudah percaya pada media, khususnya akan informasi yang didapat bukan dari orang pertama. Orang yang kritis akan menunggu informasi yang keluar dari mulut orang pertama, bahkan informasi yang keluar dari mulut orang pertama pun tidak selalu bisa diterima. Orang-orang kritis cenderung ingin membuktikan/meneliti sesuatu dengan menganalisa fakta-fakta yang ada.

Artian yang kedua bersifat berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan, definisi yang satu ini lebih bersifat offensive. Cenderung sengaja mencari kesalahan serta segala celah untuk mencari kebenaran yang lebih benar. Dalam mencari kesalahan didasarkan pada fakta dan logika yang bisa dipertanggung jawabkan, tidak sekedar hit and run.

Terakhir adalah tajam dalam penganalisisan. Dalam segala sesuatu seseorang mengandalkan logika lebih dari perasaan. Analisa-analisa yang dibuat haruslah tajam dan mendetil dan beralasan yang kuat. Analisa tersebut menyangkut segala kemungkinan yang mungkin, sebab dan akibat serta menyeluruh. Untuk dapat membuat analisa yang tajam diperlukan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu orang yang berpikir kritis lekat dengat setereotype orang yang berilmu.

Lalu Apa Hubungannya dengan Kritis dan Sok Kritis ?
A
Menurut pendapat saya, orang yang “berpikir kritis” dalam berpikir kritis seharusnya memenuhi tiga definisi diatas, yaitu bersifat tidak lekas percaya, berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan dan tajam dalam penganalisisan. Karena ketiga definisi tersebut adalah suatu sistem, satu kesatuan yang untuh, dimana bila ada satu unsur saja yang absen maka sistem tersebut tidak dapat berjalan dengan harmonis. Bila kritis dianalogikan dengan sepeda motor, bila terdapat suku cadang sepeda motor yang tidak dipasang maka bila sepeda motor tersebut digunakan sepeda motor tersebut tidak akan berjalan dengan semestinya, mungkin banyak getaran yang terjadi (kedombryangan) bahkan menyebabkan kecelakaan.

Pada dasarnya (masih menurut saya) orang yang berpikir krtis di dasari pada rasa tidak mudah percaya, yang ditindak lanjuti dengan mencari segala celah kesalahan yang ada dan dalam penyampaiannya di balut dengan analisa yang tajam dan dapat dipertanggung jawabkan. Dan yang paling penting menurut saya, sifat berpikir kritis tersebut dilatar belakangi oleh niat dan hasrat yang tulus untuk mencari kebenaran sejati. Begitulah orang yang benar-benar berpikir kritis menurut saya.
Scan18
Sok Kritis

Di tengah masyarakat banyak kita jumpai orang yang memakasakan dirinya untuk berpikir kritis. Hal tersebut kebanyakan tidak didasari oleh niat dan hasrat yang tulus untuk mencari kebenaran namun didasari oleh niatan untuk mendapat penghargaan lebih di masyarakat. Akhirnya unsur-unsur berpikir kritis tidak terpenuhi dan yang terjadi aspek “berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan” yang dominan. Disini saya perjelas, orang yang salah paham dan bersikap sok kritis lebih cenderung bersikap untuk memenagkan argumen. Yang ada hanya menang dan kalah. Bahkan memaksa pihak lain untuk kalah.

Proses untuk menemukan kesalahan tanpa didasari oleh alasan/analisa yang kuat dan kokoh namun oleh argumen yang bersifat memojokkan pihak lawan. Bila argumen perlawanan tersebut disanggah dengan fakta yang ada, orang yang sok kritis cenderung bersikap defensive atau mempertahankan perlawanannya di bandingkan menerima kenyataan(fakta) yang ada dan berujung pada diskusi atau debat yang tidak harmonis. Lebih buruk lagi bila orang yang sok kritis tidak tahu apa yang dibicarakannya, yang tadinya ingin menampilkan citra aktif dan kritis justru berakhir terlihat bodoh dihadapan orang yang mengerti.

Kritis tapi Bisa Menempatkan Diri

Kalaupun memang bukan kritis karbitan, saya sarankan untuk bisa menempatkan diri. Saya akui dengan bersikap kritis dapat mencerdaskan dan memacu untuk berpikir lebih tapi kenali lah lawan bicara serta situasi dan kondisi. Bila anda bersikap sangat kritis dalam forum sharing dan mempunyai suasana tidak formal maka anda akan dapat citra yang buruk dimata sebagian orang. Atau bila anda bersikap kritis padahal lawan bicara anda tipikal orang yang cenderung apatis dan acuh, percakapan tidak akan berlangsung dengan menyenangkan. Berbeda bila anda bicara dengan orang yang kritis, diskusi akan mengalir dengan begitu saja. Saat anda dan teman anda menonton berita di TV, lalu anda mengkritisi kasus yang ada dan dengan tanggap teman anda menanggapi dengan analisa yang cerdas.

Akhir

Di akhir post ini saya sampaikan, dalam proses untuk menjadi manusia dan memanusiakan manusia, jadilah diri kita sendiri, tak perlu membuat citra khusus. Orang akan menghargai kita apa adanya tanpa ada permainan. Dan bila kita memang orang yang kritis, maka “berpikir kritis” lah dengan memikirkan situasi dan kondisi serta mengenal siapa lawan bicara kita untuk memanusiakan manusia lain serta memanusiakan diri kita sendiri.

Post ini hanya curahan pemikiran yang didasari oleh pengamatan, pengalaman dan pembelajaran kehidupan tanpa ada penelitian khusus yang bisa dipertanggung jawabkan. Bila ada salah kata dan ada pihak yang tersinggung saya mohon maaf. Bila anda ingin menambahkan sesuatu dan membenarkan perkataan saya, silahkan berkomentar.
Wassalam… Smile 
READ MORE - Berpikir Kritis dan Sok Kritis

Kamis, 21 Maret 2013

Berkaca pada Masa Lalu Melalui Tulisan

           Setelah sekian lama saya meninggalkan dunia blogger, saya tiba-tiba teringingat akan blog saya yang tak terurus.  Akhirnya entah kenapa saya memilih kembali ke dunia Blogger. Saat itu juga saya berusaha membenahi blog saya yang terbengkalai  dari sisi luar maupun dalam, mulai dari lay out luar, coding css/html, dan posting-posting yang telah saya buat.

Ketika sedang membaca-baca tulisan-tulisan saya yang lampau. Saya terheran-heran sendiri, karena melalui tulisan-tulisan tersebut saya seperti melihat sosok  diri saya di masa lampau. Saya melihat sosok diri saya yang sangat bodoh dalam membuat tulisan. Semua saya tulis asal-asalan, semua yang keluar dari kepala saya langsung saya tulis kembali tanpa saya olah terlebih dahulu, bahkan saya bingung sendiri saat membacanya. Saya sendiri yang membuat tulisan bingung, apalagi visitornya.

Tata bahasa yang acak-acakan, sudut pandang yang sangat subjektif, semaunya sendiri. Itulah yang saya lihat dari tulisan-tulisan yang telah saya buat. Entah kenapa saya merasa malu sendiri membacanya, bahkan ada salah satu post yang saya hapus karena membahas sesuatu dari sudut pandang saya yang sangan subjektif. Semua yang telah saya tulis, semua opini yang saya keluarkan lebih mirip dengan “mengumpat online” dari pada membuat esay.


 Saat itu juga saya menyadari, bahwa melalui karya, kita dapat berinstropeksi, melihat sejauh mana perkembangan kita. Kalau dulu saya tidak pernah menulis, maka saat ini saya tidak akan pernah menyadari bahwa saya payah dalam menulis. Melalui tulisan yang telah kita buat kita bisa menilai diri sendiri, mana yang kurang dan mana yang harus di benahi. Apa tata bahasa yang masih asal, sudut pandang kita yang subjektif atau kedewasaan kita dalam menulis yang kurang.

Membaca tulisan lama lama seperti mengintip melalui lorong waktu. Melihat sosok diri sendiri dengan pemikiran yang telah berbeda. Mungkin tulisan saya ini masih jauh dari sempurna, tapi paling tidak saya mencoba lebih baik, belajar dari tulisan saya yang lama agar besok suatu saat dimasa depan, ketika saya membaca kembali tulisan ini, saya bisa berinstropeksi kembali, mana yang salah dan mana yang benar. Apa cara saya dalam mengungkapkan pendapat sudah benar ? Apa cara saya memandang suatu masalah sudah benar ? Apakah saya sudah menjadi lebih baik atau malah sebaliknya ?

READ MORE - Berkaca pada Masa Lalu Melalui Tulisan
 

Followers

My Google+

Contact Me

Nama

Email *

Pesan *